12 September 2020 - 09:46
AS Tinjauan dari Dalam, 12 September 2020

Dinamika di Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu seperti Pasukan Antariksa dan Upaya AS Dominasi Angkasa Luar, Petinggi AS Akui Negaranya Hadapi Tiga Krisis Besar.

Menurut Kantor Berita ABNA, Selain itu, masih ada isu lainnya seperti, Gubernur New York: Trump Penyebab Penyebaran virus Corona, Trump: Pentagon Sulut Perang untuk Puaskan Perusahaan Senjata, Biden Kritik Eskalasi Krisis Sosial di AS, Ilhan Omar: Kelaliman Rasial di AS Sistematis, Pompeo Kembali Menuduh Cina atas Wabah Virus Corona dan Penindasan Pengunjuk Rasa Anti-Rasis Amerika di Portland...

Pasukan Antariksa dan Upaya AS Dominasi Angkasa Luar

Letnan Jenderal Angkatan Darat James Dickinson menjadi Kepala Komando Pasukan Antariksa Amerika Serikat pada hari Kamis, 20 Agustus 2020 menggantikan Jenderal Angkatan Udara John W. "Jay" Raymond.

Ini menandai tonggak penting untuk operasi militer di angkasa luar, yang para pemimpin AS tekankan sebagai domain pertempuran perang yang semakin penting dan diperebutkan.

Sekarang, Komando Antariksa AS dan Pasukan Antariksa masing-masing memiliki pemimpin masing-masing dan memiliki misi yang saling melengkapi tetapi berbeda.

Raymond secara resmi dilantik sebagai Kepala Operasi Pasukan Antariksa baru pada Selasa, 14 Januari 2020 di Gedung Putih. Raymond memulai tugas sebagai pimpinan pertama Angkatan Antariksa pada 20 Desember 2019, ketika Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional yang secara resmi meluncurkan angkatan baru.

Tugas Pasukan Antariksa adalah mengorganisasi, melatih dan memperlengkapi personel militer yang terutama berfokus pada operasi di antariksa.

Raymond diangkat sebagai Komandan Komando Pasukan Antariksa AS yang baru setelah dibentuk pada Agustus 2019. Komando itu berupaya mengatur aset dan operasi militer AS di antariksa dengan lebih baik.

Peran militer di antariksa menjadi sorotan karena AS semakin bergantung pada satelit yang mengorbit yang sulit dilindungi. Satelit-satelit itu menyediakan komunikasi, navigasi, intelijen, dan layanan lainnya yang penting bagi militer dan ekonomi nasional.

Pasukan Antariksa adalah cabang militer terbaru dan akan berada di bawah Departemen Angkatan Udara, sama seperti Korps Marinir AS adalah layanan terpisah di dalam Departemen Angkatan Laut.

Pasukan Antariksa akhirnya akan mencakup ribuan anggota Angkatan Udara dan personil sipil yang saat ini bertugas dalam Komando Pasukan Antariksa Angkatan Udara.

Pasukan Antariksa AS akan menjadi kekuatan formal ke-enam dari militer AS, setelah Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Penjaga Pantai.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, ketergantungan kami pada kemampuan berbasis luar angkasa telah tumbuh secara dramatis, dan saat ini luar angkasa telah berevolusi menjadi medan perang sendiri.

Menurut pejabat Gedung Putih, mempertahankan dominasi Amerika dalam medan antariksa sekarang menjadi misi Angkatan Udara AS.

Di antara alasan peresmian Pasukan Antariksa AS adalah mengatasi kekhawatiran tentang pembajakan satelit dan senjata penghancur yang dikendalikan dari luar angkasa.

Pasukan Antariksa AS akan terdiri dari sekitar 16.000 tentara angkatan udara dan personil sipil. Pasukan tersebut akan memiliki seragam sendiri bahkan, nantinya mars sendiri, seperti yang sudah dimiliki oleh Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS.

Menurut Sekretaris Angkatan Udara AS Barbara Barrett, Pasukan Antariksa AS akan melindungi kepentingan nasional Amerika dengan fokus tunggal pada angkasa luar.

Petinggi AS Akui Negaranya Hadapi Tiga Krisis Besar

Ketua Partai Demokrat di negara bagian Wisconsin Amerika seraya mengakui negaranya menghadapi tiga krisis menekankan, krisis di berbagai sektor di negara ini terus meningkat dan berdampak kepada warga di seluruh wilayah.

Ben Wikler dalam wawancaranya dengan CNBC News terkait kemungkinan kerusakan Partai Demokrat hingga hari pemilihan presiden AS pada November 2020 mengatakan, negara ini kini menghadapi tiga krisis, COVID-19, krisis ekonomi dan krisis rasial.

Ketua partai Demokrat di negara bagian Wisconsin ini menambahkan, lebih dari 12 ribu lapangan kerja di sektor produksi di negara bagian Wisconsi hilang selama pemerintahan Donald Trump dan selama pandemi Corona tidak terselesaikan, lapangan kerja ini tidak akan dapat dibuka kembali.

"Krisis rasial di Amerika menciptakan perpecahan dan mengobarkan api kemunafikan serta pemerintah Trump berencana memanfaatkan krisis ini untuk meraih tujuan politiknya," papar Wikler.

Amerika saat ini menempati posisi puncak di dunia dari sisi jumlah kasus positif Corona dan angka kematian akibat pandemi ini.

Pemerintah Amerika khususnya Donald Trump mendapat kritikan pedas karena tidak bertanggung jawab atas maraknya pandemi Corona di Amerika dan kegagalannya mengatasi wabah ini serta dukungannya atas penumpasan demonstrasi anti rasis.

Gubernur New York: Trump Penyebab Penyebaran virus Corona

"Dia bertanggung jawab atas penyebaran virus ini ke negara bagian New York," kata Gubernur New York dari Partai Demokrat, saat mengkritik tajam tindakan presiden dalam menangani wabah Corona.

Menurut situs The Hill, Andrew Cuomo, Gubernur New York pada konferensi pers hari Selasa (08/09/2020), menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas penyebaran wabah virus Corona di negara bagian New York dan menyebut lembaga-lembaga medis dan Departemen Keamanan Dalam Negeri tidak kompeten.

Cuomo juga mengkritik Trump karena tidak mengalokasikan dana yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak epidemi Corona, dengan mengatakan, dia bertanggung jawab untuk tidak melarang orang Eropa yang bepergian ke Amerika Serikat.

Gubernur Partai Demokrat New York sebelumnya telah memperingatkan dalam menanggapi laporan kemungkinan pemotongan anggaran Kota New York atas perintah Trump bahwa ia membutuhkan militer untuk kembali ke kampung halamannya di New York City untuk menjaga dirinya tetap aman.

Amerika Serikat memiliki tingkat infeksi dan kematian tertinggi akibat virus Corona di dunia.

Sejauh ini, 6.514.376 orang di Amerika Serikat telah terinfeksi virus Corona dan 194.037 telah meninggal, menurut situs terbaru WorldMeter, yang melacak statistik resmi penyakit COVID-19.

342/